Kamis, 24 Mei 2012

HADITS TENTANG IBADAH


BAB I
PENDAHULUAN
Sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah dan hidup dimuka bumi ini mempunyai banyak tugas dan kewajiban yang harus dikerjakan. Tetapi diantara tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban yang pokok yang harus dikerjakan, tidak dapat di tinggalkan dan tidak dapat diwakilkan adalah ibadah kepada Allah. Kita supaya memahami bahwa adanya Allah mewajibkan manusia dan jin untuk beribadah kepada Allah adalah sebab ketika di alam ruh Allah telah menawarkan amanah agama kepada semua hambaNya yang telah diciptakan pada waktu itu. Dan manusialah yang sanggup melaksanakan amanah agama tersebut.
Dan yang perlu dipahami lagi adalah bagaimana cara kita untuk melaksanakan ibadah. Sebab tidak semua ibadah diterima oleh Allah dan tidak semua perbuatan baik menurut manusia dibalas surga. Setelah Allah menetapkan kewajiban ibadah ini kepada jin dan manusia, Allah tidak membiarkan begitu saja bagaimana hambanNya melaksanakan ibadah. Tetapi Allah mempunyai peraturan-peraturan, petunjuk-petunjuk, praktek-praktek ibadah yang harus ditaati dengan menurunkan utusan kepada setiap umat.














BAB II
PEMBAHASAN

HADITS TENTANG IBADAH

Kalau kita mencari hadits tentang ibadah, tentunya banyak sekali yang dapat kita temukan. Salah satunya adalah;

خذوا من العبادة ما تطيقون. واياكم ان يتعوّد احدكم عبادة فيرجع عنها. (الديلمي)
Artinya:
Laksanakan ibadah sesuai kemampuanmu. Jangan membiasakan ibadah lalu meninggalkannya (HR. Addailami)
Maksud hadits diatas ialah ibadah selain yang fardhu.

إن الله تعالى كتب الحسنات والسيّئات, ثم بين ذلك, فمن همّ بحسنة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة كاملة, وإن همّ بها فعملها كتبها الله تعالى عنده عشر حسنات الى سبعمائة ضعف الى أضعاف كثيرة, وإن همّ بسيّئة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة كاملة, وإن همّ بها فعملها كتبها الله عنده سيّئة واحدة
Artinya:
Sesungguhnya Allah mencatat (menetapkan) kebaikandan keburukan, kemudian ia menjelaskan hal tersebut. Barang siapa yang berkehendak dengan kebaikan namun ia tidak melakukannya, Allah mencatat bbaginya satu kebaikan yang sempurna. Dan jika ia berkehendak dengan kebaikan lalu ia melakukannya, Allah mencatat baginya sepuluh hingga tujuh ratus kebaikan bahkan sampai berlipat ganda. Jika ia berkehendak dengan kejelekan namun tidak malakukannya Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Dan jika ia berkehendak dengan kejelekan lalu melakukannya, Allah mencatat baginya satu kejelekan.
Dari hadits diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa allah akan mencatat apa yang kita kerjakan pasti akan di catat amal perbuatannya. Bedanya disini, niat baik akan dicatat meski kiti belum melakukannya. Sebaliknya, allah tidak langsung mencatat niat jelek kita hingga kita malakukannya. Melakukan perbuatan baik, hasilnya akan menjadi perkalian imbalan. Doing evil acts - this will be recorded as one sin for one sin.Melakukan tindakan jahat ini akan dicatat sebagai satu dosa untuk satu dosa.
Tujuan dari melakukan perbuatan baik ini akan disimpan bahkan jika tidak dilakukan sebagai salah satu perbuatan. 'Intention' here means that we have a great eagerness and a very strong determination to do a certain deed - and not merely thoughts of doing it. 'Tujuan' di sini berarti bahwa kita memiliki semangat besar dan tekad yang sangat kuat untuk melakukan perbuatan tertentu dan bukan hanya pikiran melakukannya
1.      Hadits Tentang Niat
a.         Definisi Niat
“Niat” menurut Dr. Husain al-’Affany adalah “al Qoshdu wa al ‘Azmu” yaitu ”tujuan dan keinginan.” Terminologi yang lebih khusus lagi, yang berarti “Qoshdul Ma’buud” (Tujuan pada dzat yang disembah yaitu Allah SWT) dengan mengambil esensi dari hadits “innamal a’maalu biniyyaat.
Kata “niat” dalam perkataan ulama’ mengandung dua makna utama: pertama, tamyiizul ‘ibaadaat ba’dhuhaa ‘an ba’dhin; yakni membedakan jenis ibadah, antara satu jenis ibadah dengan ibadah lainnya. Misalnya, membedakan antara sholat dzuhur dari sholat ashar, antara puasa ramadhan dan puasa-puasa yang lain, membedakan ibadat dengan hal yang sekedar adat (kebiasaan), membedakan jenis mandi janabat dengan mandi biasa. Niat-niat inilah yang banyak dijumpai pada perkataan ahli fiqih (fuqaha) dalam buku-buku fiqihnya.
Di handout di definisikan Niat adalah menyengaja untuk melakukan sesuatu disertai (berbarengan) dengan perbuataanya.
Disepakati bahwa niat di dalam hati dan dilakukan pada permulaan melakukan perbuatan untuk malakukan kenaikan, tentu bukan hal yang dilarang oleh syariat islam.

إنما الأعمال بالنية وانما لكل امرئ ما نوى. فمن كانت هجرته الى الله ورسوله فهجرته الى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها او امرأة ينكحها فهجرته الى ما هاجر اليه. (متفق عليه)
Artinya:
Perbuatan-perbuatan itu hanyalah dengan niat dan bagi setiap orang hanyalah menurut apa yang diniatkan. Karena itu barang siapa yang hijrahnya itu kepada kerelaan allah dan rasulnya dan barang siapa yang hijrahnya untuk memperoleh keduniaan atau wanita yang bakal di kawininya, maka hijrahnya itu ialah kepada apa yang telah dihijrahi (Muttafaqun Alaihi)
Dari hadits di atas dapat di  ambil kesimpulan:
Ø  Tidak akan pernah ada amal perbuatan kecuali disertai dengan niat.
Ø   Amal perbuatan tergantung niatnya.
Ø  Pahala seseorang yang mengerjakan suatu amal perbuatan sesuai dengan niatnya.
Ø  Seseorang akan mendapatkan pahala kebaikan, atau dosa, atau terjerumus dalam perbuatan haram dikarenakan niatnya.
Ø  Suatu amal perbuatan tergantung wasilahnya. Maka sesuatu yang mubah dapat menjadi suatu bentuk ketaatan dikarenakan niat seseorang ketika mengerjakannya adalah untuk memperoleh kebaikan.
Ø  Suatu amal perbuatan dapat menjadi kebaikan yang berpahala bagi seseorang, namun dapat pula menjadi dosa yang diharamkan bagi seseorang yang lain, adalah sesuai dengan niatnya.
اَلنِّيَةُ شَرْطٌ لِسَائِرِ الْعَمَلِ فِيْهَا الصَّلاَحُ وَالْفَسَادُ لِلْعَمَلِ
Artinya:
Niat adalah syarat bagi seluruh amalan, pada niatlah benar atau rusaknya amalan.
Menurut hadits ini Suatu amal perbuatan dapat menjadi kebaikan yang berpahala bagi seseorang, namun dapat pula menjadi dosa yang diharamkan bagi seseorang yang lain, adalah sesuai dengan niatnya.
b.         Fungsi Niat
Agama Islam mensyariatkan niat membedakan amal perbuatan yang semata-mata berdasarkan adat kebiasaan dengan amal perbuatan ibadat, dan untuk membedakan martabat dan ketentuan ibadat satu sama lain.
Niat terbagi menjadi 2 macam
1)      Niat untuk ibadah
Niat untuk ibadah memiliki dua kemungkinan pengertian
Ø  Tak ada perbuatan yang disertai niat. Semau perbuatan pasti disertai niat atau maksud dari hati. Kalau seseorang mendengar adzan maghrib, kemudian ia berangkat ke mesjid dan melakukan shalat dapat dipastikan ia shalat maghrib. Tanpa niat pun perbuatan itu tetap sah.
Ø  Niat diperlukan dalam ibadah kaeerna beberapa fungsi. Pertama untuk membadakan perbuatuan tersebut ibadah atau bukan, kedua untuk membedakan apakah ibadahnya wajib atau sunnah.
2)      Niat untuk ma’bud
Niat untuk ma’bud adalah keikhlasan melakukan ibadah hanya untuk Allah., bukan yang lain. Oleh karena itu keikhlasan ibadah harus dijaga agar tidak rusak. Keikhlasan bisa rusak pada sebelum perbuatan karena memang niatnya sejak awal sudah salah., pertengahan perbuatan karena perubahan konndisi, bahkan setelah perbuatan kaerna mengungkit-ngungkit kembali.
Bagaimana kalau seseorang beramal dengan niat untuk Allah dan untuk niat yang lain, misalnya ingin masuk syurga, takut neraka dan seterusnya?
Dari keikhlasan inilah akan meklahirkan buah dari ibadah, yang biasanya di sebut Al-akhlaq al-karimah. Dan dengan akhlaq ini, seseorang akan menapaki jenjang-jenjang yang lebih tinggi dalam menempuh [perjalabnan menuju Allah.


c.         Klasifikasi Niat
Apabila niat itu telah sipautkan dengan para subjek yang melakukan perbuatan, ia mempunyai bentuk yang berbeda-beda menurut tujuan pribadi masing-masing subyek, sebagai beriktut:
Ø  Niat awwam, yaitu niat yang biasanya terdapat pada kebanyakan orang, yang hanya ditunjakan pada tercapainya apa yan gmenjadi idamannya saja dengan melalaikan beberapa keutamaan yang telah ada sebagai pelengkapnya.
Ø  Niat juhhal, niat seseorang yang hanya didorong  oleh motif mempertahankan diri dan menghindarkan mala petaka.
Ø  Niat ahlinnifaq, niat mengerjakan suatu perbuatan yang ditunjakan untuk memperoleh pujian, baik dari sisi tuhan maupun manusia.
Ø  Niat ulama, yaitu niat yang ditunjakan untuk membina ketaatan dan memupuk ketaqwaan kepada Allah bukan kepada lainnya.
Ø  Niat ahli tasawuf, yaitu niat untuk meninggalkan dari tempat mengantungkan diri menuju kepada ketaatan-ketaatan yang lahir dari mereka sendiri.
Ø  Niat ahli hakekat, yaitu niat untuk mempertuhankan maha pencipta agar melahirkan ubudiyah(penghambaan diri) kepadanya.

2.      Hadits Tentang Keharusan Mengikuti Petunjuk Nabi

مانهيتكم عنه فاجتنبوه, وما امرتكم به فأتوا منه ما استطعتم, فإنّما اهلك الذين من قبلكم كثرة مسائلهم واختلافهم على امبيائهم
Artinya:
Apa yang aku larang kepadamu jauhilah, dan apa yang aku perintahkan kepadamu dengannya, maka kerjaknlah semampumu. Sesungguhnya kerusakan orang-orang sebelum kamu akibat banyaknya problem dan penentangn terhadap nabi merka
Semua orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian wajib menyadari bahwa landasan utama agama Islam yang agung ini adalah dua kalimat syahadat
 لا إله إلا الله و محمد رسول الله  yang ini berarti bahwa seseorang tidak akan bisa berislam dengan benar, bahkan tidak akan bisa mencapai kedudukan taqwa yang sebenarnya disisi Allah, kecuali setelah dia berusaha memahami dan mengamalkan kandungan dua kalimat syahadat ini dengan baik dan benar.
Para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah menjelaskan bahwa makna لا إله إلا الله adalah tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah, artinya tidak ada yang berhak untuk kita serahkan padanya segala bentuk ibadah, yang lahir maupun yang batin, kecuali Allah semata-mata. Dan syahadat ini mengandung dua konsekwensi
Semua amal ibadah memiliki dua sisi, yakni sisi batin dan sisi lahir. Pada sisi batin amal ibadah harus disertai niat agar ibadahnya sah dan diterima oleh allah. Sebagaimana diuraikan pada hadits  sisi lahir, tata cara ibadah itu harus mengikuti petunjuk dari Nabi, sebagaimana diisyaratkan hadits di atas. Kalau ibadah itu dilakukan bukan berdasar pada petunjuk nabi maka disebut sebagai bid’ah.
Nabi bersabda:
من احدث في امرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ
Artinya:
Siapa yang mengada-ngadakan dalam agamaku islam ini perkara-perkara baru yang bukan termsuk urusan agama, adalah tetolak.
كل أمتي يدخلون الجنة إلا من ابى قالوا ومن يأبى قال من اطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد ابى
Artinya:
Sesungguhnya umatku akan masuk syurga kecuali yang enggan (lemah), mereka bertanya siapakah yang enggan? Beliau menjawa siapapun yang mengikutiku ia pasti masuk syurga dan siapa yang menentang ku ia sungguh telah enggan (menulak masuk syurga)
A.      Definisi Bid’ah
Menurut bahasa suatu ciptaan baru yang tidak mempunyai persamaan dengan ciptaan yang lebih dahulu telah ada.
Menurut syara’, diterpkam kepada hal-hal baru sebagai penambah peraturan syara’ yang telah ada. Dengan demikian, segala ciptaan baru yang mirip dengan peratura-peraturan agama, tetapi karena tidak dikehendaki untuk diibadahkan bukan bid’ah.
Dalam buku lain bid’ah di definisikan sebagai berikut;
1)        Bid’ah adalah sesuatu yang baru setelah Rasul tiada. Sessuatu itu bisa juga terpuji dan bisa juga tercela, sehingga ada bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah.
2)        Bid’ah adalah sesuatu yang bertentangan dengan sunnah atau tidak diperintahkan oleh sunnah.

B.       Klasifikasi Bid’ah
Disamping definisi di atas, terdapat pula suatu definisi yang lebih umum sifatnya yang tidak mengeluarkan adat dari pengertian bid’ah. Menurut definisi ini, bid’ah ialah ciptaan-ciptaan baru setelah zaman nabi, baik ciptaan itu membawa kebaikan maupun kejelakan, baik ciptaan itu berkisar pada lapangan peribadatan maupun kebiasaan. Pengertian yang terkandung dari definisi di atas menunjukan adanya klasifikasi bid’ah kepada bid’ah wajibah, mandubah, mubahah, muharramam dan makruhah.
1)        Bid’ah wajibah, ialah ciptaan-ciptaan atau usaha-usaha baru yang sangat diperlukan adanya dan sebagai sarana untuk menyempurnakan pelaksanaan kewajiban.
2)        Bid’ah mandubah, ialah usaha atau ciptaan baru yang mempunyai nilai sunnah
3)        Bid’ah mubahah, ialah usaha atau ciptaan baru yang berkisar pada hal yang mubah.
4)        Bid’ah muharramah, ialah suatu bid’ah yang termasuk dalam hal-hal yang diharamkan oleh syara’.
5)        Bid’ah makruhah, ialah suatu bid’ah yang termasuk dalam hal-hal yang di makruhkan.



C.       Pembagian Bid'ah
Bid'ah dibagi oleh para ulama dengan pembagian yang bervariasi menurut sudut pandang masing-masing. Diantara sekian banayak pembagian yang diberikan para ulama adalah:
1)      Bid'ah haqiqiyyah; adalah suatu bid'ah yang tak ada dalilnya darisyariat, baik dari Al-Qur'an, As-Sunnah, ijma' qiyas dan tidak puladari keterangan yang mu'tabar di kalangan ulama baik secara globalapalagi terperinci, sepeerti menghalalkan hal-hal yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti berzina, minum khamr, riba dan lain-lain.
2)       bid'ah idlafiyyah adalah bid'ah yang dilihat dari satu sisi ada asalnya dalam syariat, tetapi dari sisi lain (tata caranya) tak ada sama sekali dalam syariat.

Lebih lanjut pembahasan tentang ibadah yang berkenaan dengan penetapan hukum-hukumnya syarat-syarat dan rukunnya, tata cara pelaksanaannya dan ketentuan waktu-waktunya. Diperlukan ilmu-ilmu lain seperti, fiqih dan ushul fiqih, serta ilmu falaq. Dengan demikian dapat diperoleh pemahaman yang lebih baik tentang kandungan hadits tersebut diatas.

D.      Hukum bid’ah
Dalam hadits Aisyah ra tersebut nabi Muhammad menjelaskan bawa sesuatu ciptaan yang baru dalam agama yang tidak mempunyai sumber sama sekali dari agama ditolak, yakna haram hukumnya. Adapun kalau ciptaan baru itupun masih mempunyai dassar atau dikuatkan oleh aqidah syara’ tidak otomatis ditolak.
Tidak dapat diragukan lagi bahwa ciptan baru yang belum pernah timbul di zaman nabi dan khulafaurrasidin ada yang harus kita terima, karena tidak ada dasar yang melarangnya dan ada pula yang harus kita tolak, karena bertentang  dengan aqidah syara’. Tidak semua hal yang baru itu ditolak karena dianggap bid’ah.




BAB III
KESIMPULAN

Dalam beberapa hadits yang telah diketahui bahwa apa-apa yang ingin dilakukan oleh kita tergantung pada niat. Jika berniat naik, maka Allah akan mencatat perbuatan kita pada kebaikan. Apabila berniat jelek, Allah tidak langsung mencatat perbuatan itu jelek.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memeritahkan kepada umatnya untuk beribadah sesuai apa yang telah beliau ajarkan. Setelah nabi meninggal, banyak hal-hal yang terjadi dan belum pernah terjadi sebelum Nabi masih hidup. Hal ini banyak yang dianggap bahwa yang belum dilakukan Nabi adalah bid’ah dan haram.
Tetapi pengharaman tersebut tergantung pada bentuk bid’ahnya, ada diantara yg menyebabkan kafir (kekufuran). Ada juga bid’ah yang merupakan  sarana menuju kesyirikan. Ada juga bid’ah yang merupakan  fasiq secara aqidah sebagaimana hal bid’ah Khawarij, Qadariyah dan Murji’ah dalam perkataan-perkataan mereka dan keyakinan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan ada juga bid’ah yang merupakan  maksiat seperti bid’ah orang yang beribadah yang keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.












DAFTAR PUSTAKA

Nur, Qudirun, Silsilah Hadits Shahih, solo: Pustaka Mantiq, 1997
Husnan, Achmad, Tajrij Hadits Riwayat Bukhori, Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar, 1997.
Faiz achmad, Muhammad, Seribu Setratus Hadits Terpilih, Jakarta: Gema Insani Press, 1991.
Fatchurrahman, al-Haditsun Nabawi, Kudus: Menara.


.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar